artikel
Browsing Category
Di antara mereka: para penemu sebenarnya, Toto Marsono adalah tokoh dengan peran beragam dan memiliki catatan panjang mengenai keterlibatan pencarian fosil prasejarah di Sangiran. Catatan itu merekam kiprahnya sejak era von Koenigswald di tahun 1934-1940, hingga era sesudahnya, sampai Balai Penyelamatan Fosil Sangiran didirikan di Desa Krikilan...
Koleksi fosil ini dikumpulkan selama kurun penelitian von Koenigswald di Sangiran, dari 1936 sampai 1941. Dari masa penemuannya di Sangiran hingga dia wafat, “Koleksi von Koenigswald” seakan tak terpisahkan dari dirinya. Disembunyikan pada masa Perang Dunia II, kemudian hijrah ke Amerika Serikat, hingga kembali...
Setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945, selangkah demi selangkah penelusuran jejak kehidupan purba Sangiran yang beku di masa pendudukan Jepang kembali dilanjutkan oleh Teuku Jacob, S. Sartono, dan R.P Soejono, murid-murid von Koenigswald. Sewindu kemudian pada tahun 1953, temuan fosil rahang bawah dan geligi hominid diumumkan...
Proyek Penelitian Paleoantropologi Nasional (1963) melakukun kegiatan penelitian gabungan di Sangiran yang diprakarsai oleh T. Jacob (UGM) dengan melibatkan Jawatan Purbakala dan Jawatan Geologi karena selepas Perang Pasifik, penelitian paleoantropologi di Indonesia seolah beku, sementara fosil hominin Sangiran terus bermunculan. Pada Agustus 1963, seorang petani lokal mengangkat...
Perang Pasifik usai. Jepang hengkang dari Nusantara. 17 Agustus 1945, Hindia Belanda memproklamirkan nama barunya: Indonesia. Di dalam negeri, kehidupan kembali menggeliat. Bagaimanapun, ranah penelitian manusia purba yang beku di masa pendudukan Jepang tak serta- merta kembali hangat seperti semula. Selangkah demi selangkah, penelusuran jejak kehidupan...
RP.Soejono memulai kiprahnya di Sangiran pada 1962. Di tahun itu, terbentuk Proyek Penelitian Paleoantropologi Nasional dengan dukungan dana dari Menteri Riset Nasional. Pada rangkaian proyek penelitian di Dusun Tanjung, ahli arkeologi ini berkolaborasi dengan Teuku Jacob—ahli antropologi ragawi, dan Sartono—ahli geologi. Ini adalah awal kolaborasi mereka—tiga...
Saat melakukan penelitian di Desa Mlandingan pada bulan November 1960, Sartono menemukan fosil rahang bawah dari Formasi Pucangan. Fosil yang kemudian diidentifikasi sebagai milik Homo erectus ini dinamai Sangiran 9. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 13 September 1969, Towikromo, warga Dusun Pucung, menemukan fosil tengkorak....
Desa Ngebung dikenal sebagai “bengkel” Sangiran Flakes Industry. Di desa ini ditemukan beberapa bukti bahwa Manusia Jawa telah mampu membuat alat batu. Temuan alat batu pertama di Ngebung adalah serpih dari bahan kalsedon dan jasper, yang ditemukan tahun 1934 oleh G.H.R. von Koenigswald....
Pasca-tragedi, dalam situasi yang sulit untuk mendapatkan izin dan pendanaan penelitian kepurbakalaan, muncul gagasan untuk mendirikan lembaga khusus yang memayungi kegiatan penelitian. Cita-cita ini terwujud tahun 1975, dengan didirikannya Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional (PusP3N, kemudian menjadi Pusat Penelitian Arkeologi...