Ruang pamer museum memiliki peran penting sebagai sarana edukasi dan
pelestarian warisan budaya. Museum Manusia Purba Sangiran memiliki koleksi dengan
nilai ilmiah dan sejarah sangat tinggi berupa fosil prasejarah yang berasal
dari Situs Sangiran. Situs ini dikenal sebagai salah satu lokasi temuan fosil
manusia purba terpenting di dunia dan telah diakui sebagai UNESCO World
Heritage sejak tahun 1996. Sejak Agustus 2025, Museum Manusia Purba Sangiran
menghelat pameran temporer di Museum De Tjolomadoe. Koleksi pada pameran
temporer ini tak lepas dari perhatian konservator Museum Manusia Purba Sangiran
yang memberlakukan sistem monitoring konservasi yang baik dan berkelanjutan
untuk menjaga keterawatan dan pelindungan koleksi.
Peran Monitoring
Konservasi
Monitoring konservasi merupakan kegiatan pengawasan dan pencatatan kondisi lingkungan serta kondisi fisik koleksi secara berkala. Tujuan utama monitoring adalah untuk memastikan bahwa lingkungan ruang pamer tetap berada dalam kondisi yang aman bagi koleksi fosil. Beberapa aspek yang biasanya dimonitor dalam ruang pamer museum antara lain:
1. Suhu dan Kelembapan Relatif
Perubahan suhu dan kelembapan yang ekstrem dapat menyebabkan retakan, pelapukan, atau degradasi material fosil. Oleh karena itu, pengukuran suhu dan kelembapan perlu dilakukan secara rutin menggunakan alat seperti Thermo-Hygrometer atau Data Logger.
2. Pencahayaan
Intensitas cahaya yang terlalu tinggi, terutama cahaya ultraviolet, dapat merusak permukaan fosil dan bisa membuat retakan pada fosil. Pengukuran intensitas cahaya menggunakan alat luxmeter.
3. Kondisi Fisik Koleksi
Selain faktor lingkungan, kondisi fisik fosil juga perlu diperiksa secara berkala. Pemeriksaan ini meliputi identifikasi retakan baru, perubahan warna, atau kerusakan pada dudukan (mounting) koleksi.
Selain monitoring
koleksi dilakukan juga pengecekan sekaligus pembersihan ruang pamer agar ruang
pamer selalu dalam keadaan bersih, rapi tertata dan nyaman bagi pengunjung. (Nina
Iswati)
0 Comments