Indonesia memiliki beragam koleksi museum yang sangat beragam yang
merupakan warisan budaya bangsa yang tak tergantikan dan menjadi sumber pengetahuan,
identitas dan kebanggaan nasional. Koleksi tersebut terbuat dari bahan organik
dan anorganik yang rentan terhadap degradasi, seperti kertas, kain, kayu,
logam, atau bahan campuran sehingga membutuhkan perlindungan khusus agar tetap
lestari. Kenyataan tersebut tidak sejalan dengan SDM yang masih terbatas
sehingga diperlukan pelatihan/ workshop konservasi preventif.
Untuk itu, diadakan penguatan kapasitas pengelolaan koleksi melalui
pelaksanaan Workshop Konservasi Preventif bertema “Risk Management for
Collections” yang berlangsung selama lima hari. Kegiatan ini merupakan
kolaborasi antara Museum Manusia Purba Sangiran, unit di bawah Indonesian
Heritage Agency (IHA) dengan Cultural Heritage Agency of the
Netherlands (Rijksdienst
voor het Cultureel Erfgoed/ RCE) dan berlangsung pada 9-13 Februari
2026, menghadirkan narasumber utama seorang peneliti senior dari RCE Belanda dr.
Bart Ankersmit yang berpengalaman dalam manajemen risiko koleksi warisan budaya
dan seorang peneliti muda Guusje Harteveld yang ahli dalam bidang
analisis material.
Workshop ini diikuti oleh para konservator museum yang ada di bawah IHA
(Museum Manusia Purba Sangiran, Museum Nasional Indonesia, Museum Semedo,
Museum Song Terus, Museum Benteng Vredeburg, Museum Kebangkitan Nasional,
Museum Islam Hasyim Ashari, Museum Batik, Museum Balai Kirti, Museum Basoeki
Abdullah). Kegiatan ini berfokus pada penguatan strategi konservasi preventif
berbasis manajemen risiko, untuk koleksi museum yang memiliki nilai ilmiah
tinggi serta tingkat kerentanan yang beragam.
Kegiatan diawali dengan pembahasan mengenai valuasi koleksi, Dimana peserta
diajak memahami bahwa setiap koleksi museum memiliki berbagai nilai: nilai
ilmiah, historis, sosial, edukatif, hingga nilai simbolik. Materi lain adalah
kerentanan koleksi dan identifikasi risiko melalui konsep 10 Agen
Deteriorasi. Pendekatan ini membantu konservator memahami berbagai faktor
penyebab kerusakan koleksi, baik yang bersifat fisik, kimia, biologis, maupun
akibat aktivitas manusia. Materi 10 agen deteriorasi yang dibahas meliputi: Gaya
fisik (physical forces), Pencurian dan vandalisme, api, air, hama, polutan,
cahaya dan radiasi UV, suhu yang tidak stabil, kelembapan relatif yang tidak
terkendali dan disosiasi (kehilangan informasi dan konteks koleksi). Peserta melakukan latihan identifikasi potensi
risiko di ruang pamer dan ruang penyimpanan, termasuk analisis tingkat
probabilitas dan dampak kerusakan terhadap koleksi fosil dan artefak.
Materi disampaikan secara interaktif, berdiskusi, studi kasus dan
pemaparan tiap kelompok. Selain workshop di dalam ruangan, dilakukan juga
ekskursi “Solo Visit” ke Museum Puro Mangkunegaran pada hari ke-3, Museum Dayu
dan Galeri Griya Mbah Sinyur di hari ke-4.
Setelah berkeliling museum, peserta diajak berdiskusi mengenai faktor
kerentanan koleksi ditinjau dari 10 agen deteriorasi, serta peserta memaparkan
temuan-temuan apa saja yang exposure oleh 10 agen deteriorasi.
Pada hari terakhir workshop, pihak Museum Manusia Purba Sangiran
menampilkan koleksi fosil Hominid asli untuk diperlihatkan pada narasumber
serta peserta, dan mendapatkan masukan tentang konservasi preventifnya.
Peserta diminta menyusun rencana manajemen risiko koleksi berdasarkan
hasil analisis yang telah dilakukan selama workshop.
Beberapa strategi mitigasi risiko yang dirumuskan meliputi:
0 Comments