×
Blog Image
27 February 2026 No Comments 124 3 min read

Museum Manusia Purba Sangiran Berkolaborasi Dengan RCE Belanda Menggelar Workshop Mitigasi Resiko Koleksi Museum

Indonesia memiliki beragam koleksi museum yang sangat beragam yang merupakan warisan budaya bangsa yang tak tergantikan dan menjadi sumber pengetahuan, identitas dan kebanggaan nasional. Koleksi tersebut terbuat dari bahan organik dan anorganik yang rentan terhadap degradasi, seperti kertas, kain, kayu, logam, atau bahan campuran sehingga membutuhkan perlindungan khusus agar tetap lestari. Kenyataan tersebut tidak sejalan dengan SDM yang masih terbatas sehingga diperlukan pelatihan/ workshop konservasi preventif.

Untuk itu, diadakan penguatan kapasitas pengelolaan koleksi melalui pelaksanaan Workshop Konservasi Preventif bertema “Risk Management for Collections” yang berlangsung selama lima hari. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Museum Manusia Purba Sangiran, unit di bawah Indonesian Heritage Agency (IHA) dengan Cultural Heritage Agency of the Netherlands (Rijksdienst voor het Cultureel Erfgoed/ RCE) dan berlangsung pada 9-13 Februari 2026, menghadirkan narasumber utama seorang peneliti senior dari RCE Belanda dr. Bart Ankersmit yang berpengalaman dalam manajemen risiko koleksi warisan budaya dan seorang peneliti muda Guusje Harteveld yang ahli dalam bidang analisis material.

Workshop ini diikuti oleh para konservator museum yang ada di bawah IHA (Museum Manusia Purba Sangiran, Museum Nasional Indonesia, Museum Semedo, Museum Song Terus, Museum Benteng Vredeburg, Museum Kebangkitan Nasional, Museum Islam Hasyim Ashari, Museum Batik, Museum Balai Kirti, Museum Basoeki Abdullah). Kegiatan ini berfokus pada penguatan strategi konservasi preventif berbasis manajemen risiko, untuk koleksi museum yang memiliki nilai ilmiah tinggi serta tingkat kerentanan yang beragam.

Kegiatan diawali dengan pembahasan mengenai valuasi koleksi, Dimana peserta diajak memahami bahwa setiap koleksi museum memiliki berbagai nilai: nilai ilmiah, historis, sosial, edukatif, hingga nilai simbolik. Materi lain adalah kerentanan koleksi dan identifikasi risiko melalui konsep 10 Agen Deteriorasi. Pendekatan ini membantu konservator memahami berbagai faktor penyebab kerusakan koleksi, baik yang bersifat fisik, kimia, biologis, maupun akibat aktivitas manusia. Materi 10 agen deteriorasi yang dibahas meliputi: Gaya fisik (physical forces), Pencurian dan vandalisme, api, air, hama, polutan, cahaya dan radiasi UV, suhu yang tidak stabil, kelembapan relatif yang tidak terkendali dan disosiasi (kehilangan informasi dan konteks koleksi).  Peserta melakukan latihan identifikasi potensi risiko di ruang pamer dan ruang penyimpanan, termasuk analisis tingkat probabilitas dan dampak kerusakan terhadap koleksi fosil dan artefak.

Materi disampaikan secara interaktif, berdiskusi, studi kasus dan pemaparan tiap kelompok. Selain workshop di dalam ruangan, dilakukan juga ekskursi “Solo Visit” ke Museum Puro Mangkunegaran pada hari ke-3, Museum Dayu dan Galeri Griya Mbah Sinyur di hari ke-4.  Setelah berkeliling museum, peserta diajak berdiskusi mengenai faktor kerentanan koleksi ditinjau dari 10 agen deteriorasi, serta peserta memaparkan temuan-temuan apa saja yang exposure oleh 10 agen deteriorasi.

Pada hari terakhir workshop, pihak Museum Manusia Purba Sangiran menampilkan koleksi fosil Hominid asli untuk diperlihatkan pada narasumber serta peserta, dan mendapatkan masukan tentang konservasi preventifnya.

Peserta diminta menyusun rencana manajemen risiko koleksi berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan selama workshop.

Beberapa strategi mitigasi risiko yang dirumuskan meliputi:

  1. Avoid, Block, Detect, Respond, Treat
  2. Peningkatan sistem monitoring suhu dan kelembapan
  3. Peningkatan sistem keamanan gedung baik di storage maupun di ruang pamer
  4. Perbaikan sistem dokumentasi untuk mencegah disosiasi. (Nina Iswati)
0 Comments